GMO

Genetically Modified Organism (GMO):

Peraturan dan Keresahan Pangan di Indonesia

Mafrikhul Muttaqin (G34052008), Hirmas Fuady Putra (G34050863), Amaryllis Anindyaputri (G34050939), Alfa Mulia Wibowo (G34051438), Jaka Permana Sidik (G34051932), Diaz Samodro (G34052217).

Bioteknologi telah membantu manusia dalam menghadapi masalah ketersediaan pangan. Di Indonesia telah terjadi pergeseran makna organisme transgenic – Genetically Modified Organism (GMO). sehingga menimbulkan keresahan ketika masyarakat menemui pangan asal GMO. Regulasi dari pemerintah belum memberikan kenyamanan pada masyarakat terhadap produk pangan GMO. Keterpaduan usaha dari industri, universitas dan lembaga penelitian, dan pemerintah diharapkan dapat memberikan edukasi sehingga masyarakat mengetahui informasi tentang bioteknologi dan GMO.

Kata kunci: bioteknologi, regulasi, edukasi.

PENDAHULUAN

 

Bioteknologi berasal dari kata bio yang berarti makhluk hidup dan teknologi yang berarti sesuatu yang memudahkan manusia. Bioteknologi merupakan pemanfaatan bahan-bahan atau proses-proses biologi untuk memecah masalah atau menghasilkan produk yang berguna. Bioteknologi mencakup seluruh pemanfatan organisme untuk kepentingan manusia. Produk bioteknologi yang sudah dikenal dalam kehidupan sehari-hari adalah tempe, yoghurt, dan nata. Saat ini pengertian bioteknologi telah bergeser pada hal-hal yang berkaitan dengan rekayasa genetik organisme serta rekombinasinya. Secara sederhana, produk pertanian merupakan hasil dari modifikasi bahan genetik dan seleksi. Modifikasi bahan genetik dan seleksi terjadi ketika proses persilangan silang, mutasi spontan, dan mutasi fisik atau kimia. Modifikasi ini menghasilkan beragam sifat organisme dalam setiap galurnya. Tanaman budidaya diperoleh dari seleksi manusia terhadap galur-galur tertentu yang memberi manfaat terbesar.

Teknologi DNA atau rekayasa genetika merupakan kesinambungan dari proses yang terjadi secara alami di alam dengan menggunakan sains dan teknologi baru. Genetically Modified Organism (GMO) atau organisme transgenic merupakan organisme yang telah mengalami modifikasi bahan genetik, sehingga secara sederhana semua organisme merupakan GMO karena dalam proses reproduksinya terjadi pencampuran bahan genetik kedua inangnya. Organisme yang berreproduksi dengan membelah diri juga mengalami modifikasi terutama dari proses mutasi dan transfer gen. Saat ini pengertian GMO telah bergeser menjadi organisme yang telah mengalami modifikasi bahan genetik dengan menggunakan teknologi DNA.

BIOTEKNOLOGI DAN PANGAN

Pangan merupakan salah satu elemen yang sangat penting yang menopang kehidupan manusia. Perubahan budaya dan cara hidup membuat ketersediaan pangan menjadi hal penting bagi manusia. Salah satu cara untuk menyediakan bahan pangan manusia adalah dengan pertanian. Penggunaan bioteknologi dalam pertanian memberi keuntungan antara lain tanaman atau ternak dapat menghasilkan produk yang lebih tinggi, pengurangan penggunaan pestisida dan herbisida pada lahan, dan memperpanjang daya tahan atau kesehatan tanaman atau ternak. Secara umum konsumen akan memilih pangan rendah atau tanpa pestisida dan herbisida, nilai gizi tinggi, dan peningkatan rasa dan penampilan (Falk et al. 2002).

Selain keuntungan penggunaan bahan pangan asal GMO, dikhawatirkan pula pangan asal GMO dapat menimbulkan alergi, karsinogenik, resistensi antibiotik, dan perpindahan gen ke lingkungan. Isu keamanan pangan dari varietas tanaman baru hsil rekayasa genetic adalah potensi racun dari protein yang diintroduksi, perubahan alergisitas, perubahan nutrisi, racun dan alergi tak terduga, serta keamanan resistansi antibiotik penanda gen penyandi protein yang digunakan dalam rekayasa (Chassy 2002). Berbagai poster,iklan atau media lain telah mengimbau masyarakat untuk menghindari produk pangan asal GMO. Ketidaktahun masyarakat memunculkan kekhawatiran berlebih terhadap produk pangan asal GMO.

Indonesia, dan negara berkembang lain, memiliki 4 keuntungan dalam pengembangan bioteknologi bahan pangan (Timmer 2003). Keuntungan tersebut adalah sistem pertanian yang dapat ditingkatkan produktivitasnya dengan menggunakan pengolahan konvensional termodifikasi, pemupukan alami lebih ramah lingkungan yang menjamin ketersediaan nutrisi pada tanah, potensi pertanian yang belum teroptimalkan, dan mereduksi penggunaan bahan kimia dalam pestisida. Pengembangan bioteknologi dapat mendukung ketahanan pangan Indonesia.

Isu yang mempengaruhi perkembangan produk bioteknologi di negara berkembang adalah sains, ekonomi, dan politik (Timmer 2003). Sains berkutat pada bagaimana peningkatan mutu pangan; penerimaan konsumen terhadap produk bioteknologi, biaya produksi pengolahan produk bioteknologi, permintaan dan penawaran produk bioteknologi, potensi untuk membangun ‘niche market’ (seperti produk kultur jaringan tanaman yang berasal dari negara lain) merupakan aspek ekonomi yang diperhatikan;.sistem politik yang berpengaruh mencakup hak kekayaan intelektual atas produk bioteknologi, keamanan, perdagangan GMO, keamanan pangan dan pilihan konsumen, investasi pada penelitian.

PERATURAN PANGAN

Perkembangan pesat bioteknologi telah membuat National Institutes of Health (NIH) mengeluarkan panduan tentang laboratorium yang bekerja dalam teknologi DNA  pada tahun 1976 dan direvisi pada 1980 (Glick & Pasternak 1998). Peraturan pangan produk GMO kemudian diregulasikan oleh Food and Drug Administration (FDA). Pada saat awal peraturan pangan produk GMO ini berkutat pada chymosin, triptopan, dan bovine somatrotropin (Glick & Pasternak 1998). Saat ini panduan mengenai produk pangan asal GMO disusun oleh National Institutes of Health (NIH), the Animal Plant Health Inspection Service (APHIS) of the USDA, Food and Drug Administration (FDA), dan Environmental Protection Agency (EPA) (Falk et al. 2002).

Berdasarkan PP no 28 tahun 2004, pangan hasil rekayasa genetika atau GMO adalah pangan atau produk pangan yang diturunkan dari tanaman, atau hewan yang dihasilkan melalui proses rekayasa genetika. Sebagaimana jenis pangan lain yang diregulasi pemerintah melalui undang-undang (UU) dan peraturan pemerintah (PP), pangan GMO juga diregulasi dalam pasal 14 PP No. 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan, serta dalam pasal 35 PP No.69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.

Pemeriksaan keamanan pangan rekayasa genetika oleh FDA dan EPA meliputi keamanan bahan yang ditambahkan, keamanan produk, keamanan pangan secara keseluruhan dalam tahap produksinya (Chassy 2002). Secara khusus untuk menilai keamanan pangan daging asal hewan transgenik adalah ada tidaknya gen asing, bagaimana produk dari gen asing tersebut, ada tidaknya ancaman yang berasal dari gen yang ditransfer, dan kondisi fisik dan penampilan hewan tersebut (Basu et al 1993).

Berdasarkan pasal 14 PP No. 28 tahun 2004 yang terdiri atas 5 ayat, dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang memproduksi pangan, bahan baku, bahan tambahan pangan atau bahan bantu lainnya yang merupakan GMO harus memeriksakan bahan-bahan tersebut ke komisi yang menangani keamanan pangan produk rekayasa genetika. Pemeriksaan tersebut antara lain meliputi informasi genetika dari bahan tersebut, deskripsi organisme donor, deskripsi modifikasi genetika, karakterisasi modifikasi genetika, dan informasi keamanan pangannya. Persyaratan dan tata cara pemeriksaan juga menjadi wewenang komisi yang menangani keamanan pangan produk rekayasa genetika untuk menetapkannya. Setelah itu, berdasarkan rekomendasi dari komisi tersebut, Kepala Badan POM menetapkan aman atau tidaknya pangan GMO tersebut.

Sedangkan menurut pasal 35 PP No. 69 tahun 1999, disebutkan bahwa pada label untuk pangan hasil rekayasa genetika wajib dicantumkan tulisan PANGAN HASIL REKAYASA GENETIKA. Pada Label cukup dicantumkan keterangan tentang pangan rekayasa genetika pada bahan yang merupakan pangan hasil rekayasa genetika tersebut dan juga dapat dicantumkan logo khusus pangan hasil rekayasa genetika. Dari isi ketiga ayat pada  PP No. 69 tahun 1999 tentang label dan Iklan tersebut, Indonesia masih dalam posisi netral dan menghargai hak konsumen untuk mengetahui komponen bahan pangan yang dikonsumsinya, termasuk pangan hasil rekayasa genetika.

Perbedaan peraturan pangan hasil bioteknologi di berbagai belahan dunia mempengaruhi bagaimana produk bioteknologi dapat diterima, dapat menentukan siapa yang menang dan kalah dalam perdagangan internasional (Hai’enga 1993). Adanya integritas regulasi internasional diperlukan untuk menjamin mutu pangan dan perdagangan yang adil. Menurut Falk et al. (1992), peraturan pangan hasil rekayasa genetika di Eropa lebih berkembang untuk menjaga keamanan pangan dan mengurangi resiko buruk terhadap lingkungan dibanding di Amerika Serikat. Perkembangan bioteknologi sangat pesat seiring ditemukannya teknologi pendukung sehingga Indonesia perlu menyesuaikan diri dengan membuat peraturan tentang produk pangan asal GMO.

EDUKASI MASYARAKAT

Munculnya media-media yang menolak kehadiran GMO sangat berkebalikan dengan konsumsi kedelai Indonesia yang cukup tinggi. Kedelai impor di Indonesia yang menguasai sebagian besar pasar merupakan produk transgenik. Adanya media ini ikut mempengaruhi persepsi masyarakat yang umumnya tidak mengetahui apa itu bioteknologi dan GMO. Hal-hal yang berpengaruh terhadap persepsi masyarakat pada pangan hasil rekayasa genetika adalah pembahasan masalah secara pribadi dan emosional, ketidaktahuan tentang bioteknologi, penjabaran media secara sensasional, dan hal etik dan sosial yang komplek yang menghasilkan ketakutan pada konsumen serta berujung pada debat panjang dan ketidakpercayaan (Falk et al. 2002). Walaupun demikian, penerimaan produk biotek mutlak berada pada tangan konsumen. Keputusan konsumen untuk menerima atau tidak sangat tergantung dari pengetahuan konsumen tentang pangan hasil bioteknologi (Hai’enga 1993).

Ketakutan dan perhatian masyarakat tentang pangan asal GMO harus dikomunikasikan dengan baik sehingga diperoleh pengertian tentang keuntungan dan resikonya. Komunitas ilmuwan dinilai paling berperan dan dapat dipercaya sebagai penyampai informasi (Timmer 2003). Selain itu, edukasi berbasis sains dapat meningkatkan rasa penerimaan konsumen terhadap produk bioteknologi dan peraturannya (Santerre et al. 2002).

Keterpaduan usaha dalam edukasi dan publikasi informasi bioteknologi dan pangan GMO diperlukan untuk memberikan kenyamanan masyarakat serta jaminan mutu dan keamanan pangan yang dikonsumsi masyarakat. Menurut Hai’enga (1993), pihak-pihak yang terkait dalam membangun kenyamanan masyarakat serta jaminan mutu dan keamanan pangan adalah industri, universitas dan pemerintah. Industri dapat memperkirakan dan mengaplikasikan bioteknologi ke dalam proses produksinya, universitas dan lembaga penelitian mendidik masyarakat dan berperan dalam berbagai kajian resiko, dan pemerintah membangun regulasi. Regulasi yang ditetapkan pemerintah hendaklah berdasar pada sains yang memberi perlindungan terhadap konsumen.

SIMPULAN

Bioteknologi diperlukan dalam mencukupi ketersediaan pangan dunia. Peraturan tentang pangan hasil teknologi DNA diperlukan pada suatu negara dan dalam sistem perdagangan internasional. Edukasi tentang bioteknologi dan GMO diperlukan untuk mengatasi keresahan konsumsi pangan GMO pada masyarakat Indonesia. Industri, universitas dan lembaga penelitian, dan pemerintah berperan penting dalam memberi kenyamanan masyarakat dan jaminan mutu dan keamanan pangan masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Basu P,  Masters B, Patel B, Urban O. 1993.  Food  Safety  and  Inspection  Service  Update  on  Food  Safety  of Animals  Derived  from  Biotechnology  Experiments. J. Anim.  Sci.  71(Suppl.  3): 41-42.

Chassy BM. 2002. Food Safety Evaluation of Crops Produced through Biotechnology. J American College of Nutrition 21(3): 166S–173S.

Falk MC et al. 2002. Food Biotechnology: Benefits and Concerns. J. Nutr. 132: 1384–1390

Glick BR, Pasternak JJ. 1998. Molecular Biotechnology. Principles and Aplications of Recombinant DNA. Edisi ke 2. Washington: ASM.

Hai’enga ML. 1993. Food and agricultural biotechnology: economic implications. Am J Clin Nutr 58(suppl): 313S-6S.

Santerre CR, Machtmes KL. 2002. The Impact of Consumer Food Biotechnology Training on Knowledge and Attitude. J American College of Nutrition 21 (3): 174S–177S

Timmer CP. 2003. Biotechnology and Food Systems in Developing Countries. J. Nutr. 133: 3319–3322.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s